Posted by: semediwahyu | April 17, 2009

Project Management Team (Renungan Untuk Calon Project Manager)

Seorang direktur sebuah perusahaan T & I pipeline baru saja memenangkan sebuah kontrak Installasi pipeline dari sebuah perusahaan E & P kenamaan. Maka segera disusun sebuah actual planning untuk eksekusi pekerjaan.

 

Dimulai dengan engineering. Dia merencanakan memperkuat divisi ini. Didatangkanlah engineer-engineer potensial dan berbakat. Harapannya, engineering yang kuat akan mempercepat penyelesaian proyek. Kalau bisa sekali issued procedure, dengan kalkulasi dan analisa yang mantap, drawing yang jelas, kata kata kata yang indah, client menjadi terpesona dan langsung approved for construction. Kebetulan laybarge juga baru, bikinan sebuah yard Batam. Tensionernya buatan SAS, stingernya bisa memakai 2 opsi, floating atau fix. Design mulai dari pipe storage, line up room, ke firing line sampai ke last roller diujung stinger dibikin seefectif mungkin oleh team engineer plus kalkulasi yang akurat.

 

Kemudian dia berpikir bagaimana menaikkan production rate. Lumayan jalur pipanya sangat panjang, 150 km, bisa menghemat schedule. Maka dipilih welding technology sekelas serimer edisi terakhir. Segera dilakukan persiapan, mulai merekrut welding engineer jempolan, membikin WPS, sampai welder qualification.

 

Singkat cerita, masa konstruksi tiba. Engineer yang bikin procedure waktu preparation dikirim ke lapangan sebagai field engineer. Disana telah menanti crew-crew yang handal dengan pengalaman puluhan tahun, bahkan ada yang ratusan tahun…JJ

Hari pertama, menunjukkan performa yang lumayan menjanjikan. Production rate-nya 200 joint per day. Padahal masih meraba raba setting equipment, kedepan pasti akan lebih banyak lagi. Hmmm.

Disisi lain, Field engineer juga bersemangat, kelihatan dari seringnya dia turun dari container office untuk melihat aktifitas production.

 

Ketika melihat barge master sedang memimpin anchor job, dengan semangat dia menegur sang barge master yang telah berpengalaman lebih dari 15 tahun.  “Pak, kalau anchor wire tensionnya terlalu kuat, putus nanti. jangan seperti itu, nanti mendekati batas plastis, secara teknik itu bahaya !!”. Barge master hanya diam saja sambil bergumam dalam hatinya “ apa apaan yang diomongkan bocah cilik tadi, aku ga ngerti, sekali lagi cara ngomongnya seperti itu aku gantung dia di Crane”. Di winch operator room, hal yang sama dulangi lagi. Di firing line, gantian line-up operator yang diceramahi secara teknikal. Operator jadi tersinggung, handle fit-up jadi kasar, sehingga joint fit-up memakan waktu lumayan lama.

friksi pertama mulai muncul.

 

Ketika konstruktion mulai berjalan beberapa hari,  para welder mulai mendengar isu tentang bonus production yang katanya kecil, akhirnya repair sering terjadi, production jadi lambat.  Langsung disikapi pihak management dengan menaikkan production bonus.

Ketika produksi naik lagi, giliran QC inspector bermasalah, welder dikasih bonus kok gw engak. Gw bikin repair saja di bagian root. Repairnya biar lama… pikirnya.

 

Masalah demi masalah mulai timbul, di marine crew, untuk menyikapi kenaikan fuel yang drastis, control penggunaan diperketat. Mechanic tidak bisa bermain main dengan Fuel lagi. Akhirnya mesin Tug boat sengaja dibikin bermasalah. Breakdown, tidak bisa anchor job. Produktion lancar, tapi tidak bisa anchor job.

 

Wah wah wah, project managernya stress berat, field engineernya kena pressure, kondisinya drop. Akhirnya resign. Projectnya merugi, kena penalty dari client, perusahaannya tutup…….

Posted by: semediwahyu | April 17, 2009

Pipeline Wall Thickness Calculation (ASME B31.8)

 

“Wes pernah ngitung tebal pipo ?”

“wes (mantab). Dulu aku pernah ngitung waktu ngerjakan TA”

“Apa rule yang dipakai ?

“campur bawur”

“Kok bisa ? berarti khan ngak konsisten ?”

“Yap, itu dulu, karena waktu itu hanya untuk keperluan tugas akhir..hasilnyapun ternyati masih nyaris.. untungnya masih mahasiswa.. jadinya kalau salah diampuni…..hi hi hi hi hi…..”

Waktu fresh gimana ?

“ngakunya sih sudah, tuh di CV ditulis”

“Lho lho lho lho lho, bakul jamu maneh, opo bakul kecap ?….he he he he

“Engak, gini…aku jadi pembantunya senior,….ngerjakan design….pakai ASME B318 jek, opshore lho sangar khan ?…….selebihnya hanya review”

“Review kok dikatakan ndesign?” maksudnya review design. Dan namanya pereview itu secara pangkat khan lebih tinggi dari seorang design enjineer…coba tanya ke inpsektur gempur, atau inspektur rochmad kalau ga percaya….

“Ok tak test”

“Ya opo ASME B318”

“Waduh, testnya besok aja,Aku tak takon wong expert dulu”

Stelah tanya :

Pada dasarnya design pipeline adalah menentukan design optimum tebal pipa dan material grade pipa.

Karena kalau menentukan material grade ceritanya akan panjang dan butuh beberapa semester, maka sesuai judul, kita akan diskusi masalah tebal pipa sajah……

 

ASME B318

Untuk teknologi jadul, seleksi ketebalan pipa kebanyakan berdasarkan perhitungan simple Hoop stress criteria. Perhitungan tersebut kemudian ditambah dengan buckle initation, buckle propagation, and collapse karena exsternal pressure.  Untuk liquid atau condensate kadang perlu ditambahkan corrossion allowance.

 

Hoop stress yang dihasilkan dari perbedaan internal and external pressure tidak boleh melebihi dari perkalian design faktor, smys dan derating temperature faktor (chapter 8 asme b318).Pada construktion, sebagai pre eliminary adakalanya dibutuhkan kombinasi stress dari shear, longitudinal, tangensial, and hoop stress.

Tapi, Ada sesuatu yang agak ngganjel ketika ndesign memakai asme b318.

Dalam chapter 8 tidak disebutkan rumusan untuk menghitung collapse. Dengan aji aji spekulasi diambillah rumusan milik sodaranya di API 1111. Asumsi yang dipakai karena masih tetangga kampung, sesama paman sam (boleh ngak ya ?, mongggo kalau mau didiskusikan).

 

Asme b318 itu kata orang orang pinter termasuk teknologi jadul. Kenapa ? karena masih memakai sistem ASD(allowable stress design). Yaitu secara konservativ memakai load factor 0.72 dan 0.5. Kurang kerenlah secara enjineer (tapi bagi saya sangat keren, karena itungannnya simple dan sesuai dengan kepala saya yang kapasitasnya juga simple…..he he he he).

Mengenai ASD, LRFD, ULS, ALS, FLS… dan kawan kawan, sepertinya teman teman dari strukture familiar dengan ini.

Adakah yang mau memberi penjelasan ?

Posted by: semediwahyu | April 17, 2009

Piping and Pipeline

Dalam diskusi beberapa waktu lalu, cak Didik sempat secara eksplisit menyebutkan kesamaan antara piping and pipeline. Samakah ? atau apakah berbeda ?Kalau sama, kenapa kok disebutnya berbeda. Tidak piping atau pipeline saja hayo?. Di beberapa engineering company, memang tidak dipisahkan antara bidang piping dan pipeline. Seorang piping engineer sekaligus juga sebagai pipeline engineer, kadang juga sebagai mechanical Piping (MEPI). Berarti sama ya ? Hanya beda sebutan saja. Hmmmm.

 

Pada dasarnya, fungsi piping/pipeline adalah untuk transport fluida sebuah plan selama masa service. Lalu kenapa disebut piping ? pipeline ? Ah bikin penasaran sajah. Setelah melakukan wawancara dengan seorang piping/pipeline engineer, sedikit penasaran itu akhirnya terurai.

“Coba lihat P & ID sebuah plan (sambil menunjukkan sebuah P & ID sebuah plan). Yang dinamakan pipeline itu adalah pipa yang ada diantara Pig launcher and Pig receiver. Itulah pipeline. Atau jika itu gas, maka setelah rangkaian slug catcher, ada pig launcher, kemudian pipa, dan diujungnya ada pig receiver. Lainnya adalah piping, Itu sajah titik !!”

Masih penasaran juga, akhirnya mencoba untuk melihat sebuah buku usang tentang piping warisan dari guru pencak silat di madiun.Buku tersebut karangan Mikael W Braestrup dkk. (dulunya para pemuda di madiun, ponorogo, ngawi, dan magetan memang akrab dengan teknik pipa).

Dari buku tersebut, pipeline system didefinisikan sebagai section yang memanjang dimulai dari inlet point, dari offshore platform atau onshore compression station menuju ke outlet point offshore platform, atau onshore receiver facility.  Pada inlet point ada fasilitas pig launcher. Pig Launcher digunakan sebagai fasilitas launching pig untuk cleaning, maintenance, dan inspeksi pipa, kemudian pig diterima di receiver facilities yang berada di outlet point.

 

Bagaimana dengan offshore pipeline ?

Dalam buku offshore pipeline pemberian pak Dhodot pipeline adalah :

Flowline untuk menyalurkan oil/gas dari satelit subsea well to subsea manifold.

Flowline untuk menyalurkan oil/gas dari subsea manifold to production facility platform.

Infield  flowline untuk menyalurkan oil/gas diantara production fasility platform.

Flowline untuk menyalurkan oil/gas dari production facility platform menuju darat.

 

Lalu ada lagi sebuah pertanyaan yang membikin penasaran. Apakah sama antara pipeline engineer (design) dengan Pipeline installation engineer/field engineer ?

 

CMIW,

Posted by: semediwahyu | April 17, 2009

Dari Mana Ndesign Offshore Pipeline Dimulai

“Cak gimana urutan ndesign offshore pipeline sih ?

Sampeyan ngerti ra? “.

Pertanyaan yang salah barusan di tujukan untuk saya. Ini pertanyaan ngetest atau gimana ya, soalnya yang tanya adalah seorang deputy construction manager proyek offshore laying pipo di Kalimantan. Dan dia tau,  saya hanya seorang rigger (kuli angkut di laut) dan bukan seorang pipeline enjineer jempolan. Jentik saja ngak lewat apalagi jempol. Mau njawab takutnya salah. Kalau njawab terlalu detil, malu. Lha wong ndesign pipeline pakai DNV saja ra iso, isine section 5 wae ga ngerti.  Wedine lek dianggep bakul jamu, atau bakul kecap.

Tapi pertanyaan tersebut bikin penasaran juga. Akhirnya sedikit Tanya sana sini, mengumpulkan informasi dari rekan proses enjineer, rekan pipeliner, saya akan mencoba menceritakan ulang apa yang mereka ceritakan. Mungkin karena sifatnya cerita ulang, ya banyak bocor sana sini. Ibarat nimba di sumur pakai ember, ketika mau diangkut ke bak penampung, airnya ada yang tumpah. Untuk menambal kekurangannya, terpaksa ya ditambah air lagi, dan kadarnya mungkin jadi lain. Jadinya ga orisinil lagi, bahkan salah.

Nah berkaitan dengan hal tersebut, jika ada yang salah yo CMIW saja……

 

Untuk rekan enjineer, silakan menambah atau membetulkan.

 

Dimulai dari sebuah conceptual design (sok enjineer banget). Pipeline enjineer harus ngerti lingkungan dimana sebuah pipa mau dipasang dan dioperasikan.

kedalaman air, gelombang, arus, swell, tide, karakteristik seabed, and tanah. Semua itu adalah eksternal parameter yang mempengaruhi integritas sebuah opsore pipeline (maaf ga iso nyebut “f”, karena ada keturunan sundo).

Kemudian, jenis fluida yang akan mengalir didalam pipa, apakah gas, condensate, air, minyak. Karakter dari masing masing jenis mempengaruhi design.

Kenapa ? karena jenis tersebut mempunyai tekanan, suhu, sifat korosi, yang berlainan. (lebih detilnya ya orang proses/Teknik Kimia yang musti nerangkan, butuh waktu 8 semester kali).

 

Data designnya adalah ini :

 

Performa reservoir

Perhitungan performa dari sebuah reservoir dibutuhkan untuk mengetahui operasi. Dari sini paling tidak diketahui design life dari sebuah pipeline. (biasane design life yg umum minimum 25-30 tahun).

 

Pressure Dan Temperature.

Pressure dari fluida memberikan pengaruh kepada tekanan operasi sebuah pipa. Dari sinilah bisa dihitung wall thickness sebuah pipeline. Pressure and temperature yang tinggi mempengaruhi pemilihan material pipeline dan mempunyai efek secara langsung terhadap biaya yang dibutuhkan. (mentang mentang tukang ngitung duwit proyek, duwit saja yang  dipikir).

 

Komposisi Fluida.

Komposisi fluida diperoleh dari proses design basis, serta simulasi report yang diberikan oleh Hysis ? (monggo proses enjineer mengoreksi). Informasi ini diperlukan oleh design enjineer untuk mengetahiu kesolidan dari sebuah fluida yang mengalir di pipa. Ada yang tau kenapa ? mungkin diperlukan untuk mendesign maintenance process, precommisioining, jenis internal coating, material pipe dan mengukur pressure drop. (tau khan, kalau fluidanya mau dialirkan sejauh 100 km dan letaknya dibawah laut, tentunya ada variasa tekanan di disepanjang jalur pipa) Iyo ngak ? saya juga ga tau… he he he he…

 

Production profile.

 

Katanya buku, production profile sangat penting untuk mendesign line sizing. Production profile menentukan bagaimana flow dari suatu fluida akan berubah berdasarkan waktu. Production profile biasanya akan dihitung oleh seorang process enjineer dengan melakukan simulasi dengan software seperti pipesim. Mengutip penjelasan dari seorang process enjineer (teknik Kimia)

“Untuk line sizing sendiri, liquid biasanya limitasi dari velocity, kalo gas dari pressure dropnya, trus kalo mix (liquid & gas) dari velocitynya yg gak boleh lbh gedhe dari errosional velocity. Ada tambahan sedikit untuk limitasi tergantung jenis fluidanya, ya kalo liq biasanya dibatasi velocitynya 3-15  ft/s. Gas dari pressure dropnya, kadang2 ada spec khusus juga dari client.

btw, medi jangan ngitung gituan, itu namanya merebut lahan orang…..he he he he he “.

 

Dari pernyataan rekan diatas, seorang pipeline enjineer ga usah menentukan line sizing dari sebuah pipeline, karena data line sizing sudah disediakan oleh orang process.

 

Data Lingkungan

 

Seperti yang telah disebut diatas, selain internal load, pipa akan mendapat gempuran dari luar yang disebabkan oleh lingkungan operasi. Geotechnical survey data diperlukan untuk memberikan informasi kondisi seabed yang akan berpengaruh pada mechanical design dan operasi pipa. Informasi yang akurat, membantu pipeline enjineer mengenai rute optimum, span, seabed obstruction, stability pipeline.

Informasi data lingkungan seperti gelombang, angin, arus, kedalaman diperlukan untuk stabilitas pipeline, insallation dan juga penentuan jenis proteksi yang akan diberlakukan  pada pipeline.

 

(data diatas, biasanya dirangkum  di design basis pipeline)

 

Setelah data data diatas terpenuhi barulah seorang pipeline enjineer bisa menentukan :

.

  1. Routing criteria
  2. Wall Thickness Calculation
  3. On bottom stability analysis
  4. Span Analysis
  5. Catodic protection design
  6. Pipeline expansion Analysis
  7. Pipeline laying analysis.

 

Dan tentunya dalam mendesign harus ada reference-nya. Yaitu code and standard, serta Company spec and criteria. Untuk Code and Satndard bisa memakai ASME B318, API 1111, atau yg common practice yaitu DNV OS F101.

Selamat mendesign…

Categories